mine

mine

Selasa, 04 Desember 2012

Nenek Ranti Bukan Mak Lampir

ini adalah cerpen pertamaku, jadi mohon bantuannya ^^
Happy reading!

Sebenarnya, nama nenek itu adalah Nek Ranti. Akan tetapi, Aris, Guntur dan teman-temannya lebih suka memanggilnya Mak Lampir. Mungkin karena rambutnya yang mulai memutih dan kulitnya yang keriput. Juga karena di mata anak-anak, Nek Ranti itu galak dan sangat menakutkan. Padahal, sebenarnya Nek Ranti orang yang ramah dan baik hati. Hanya saja ia agak cerewet dan sering memarahi anak-anak yang tanpa permisi masuk ke pekarangan rumahnya.

Nenek Ranti tinggal sendirian. Suaminya sudah lama meninggal. Anak-anak dan cucunya semua tinggal di kota. Kadang-kadang saja mereka menjenguk Nek Ranti, terutama di hari-hari libur sekolah ataupun di hari Lebaran.

Pekarangan Nek Ranti cukup luas. Almarhum suaminya dulu menanam bermacam-macam pohon buah. ada pohon mangga, rambutan, sawo, dan manggis. Karena itu, jika sedang musim berbuah, banyak anak yang nyelenong begitu saja masuk ke pekarangan rumah Nek Ranti. Mereka mencari buah-buahan yang berjatuhan karena sudah terlalu masak.

Setiap melihat anak-anak itu, Nek Ranti akan bertetiak-teriak mengusir mereka. sebenarnya Nek Ranti bukannya melarang mereka memunguti buah yang berjatuhan, tetapi Nek Ranti hanya ingin mereka meminta izin dulu.

"Tak mengerti sopan santun. Masuk pekarangan orang seperti masuk pekarangan kosong saja," gerutu Nek Ranti.

Pohon manggis di belakang rumah Nek Ranti sedang berbuah. Kulit buahnya coklat kehitaman, pertanda sudah masak.

Siang itu, Aris dan Guntur pulang sekolah lewat belakang rumah Nek Ranti. Melihat buah manggis yang bergelantungan, Guntur berbisik pada Aris "Kita lempar, yuk!". "Jangan, nanti berisik, bisa ketahuan. Lebih baik kita panjat aja pohonnya." sahut Aris. Ia lalu menyerahkan tas sekolahnya kepada Guntur.

Aris menyelinap masuk ke pekarangan rumah Nek Ranti. Sedangkan Guntur menunggu di luar pagar. Dengan lincah, Aris memanjat pohon manggis itu, tak peduli pada iringan semut yang sedang merayap di batang pohon. Aris meraih buah yang terjangkau, memetiknya, dan melemparkannya pada Guntur yang telah siap menerimanya.

Baru sempat memetik beberapa buah, Aris akhirnya tak tahan dengan gigitan semut yang menggerubutinya. Tangannya sibuk membersihkan semut yang menggigit sekujur tubuhnya. Akibatnya, Aris menjadi kurang hati-hati. Kakinya menginjak dahan rapuh. Dahan pun patah. KREK! KROSAK! GEDEBUG! Aris jatuh.

Untung saja Aris jatuh dari dahan yang tidak terlalu tinggi. Meskipun demikian, kaki kirinya terasa sakit. Aris mencoba berdiri, tapi ia jatuh dan terduduk. Guntur hanya kebingungan melihat kejadian yang tak disangka itu.

"Siapa di luar?" seru Nek Ranti yang mendengar suara berisik tadi. Aris mencoba berdiri kembali, tapi ia terjatuh dan terduduk lagi. Guntur ketakutan mendengar suara Nek Ranti. Ia langsung lari tunggang langgang. Aris hanya bisa menangis ketakutan ketika Nek Ranti menghampirinya.

Nek Ranti segera menolong Aris berdiri, dan memapahnya ke beranda rumah. Ia mendudukkan Aris di kursi dan memeriksa kaki kiri Aris.

"nggak apa-apa, cuma terkilir!" kata Nek Ranti. Ia lalu memijat kaki kiri Aris yang terkilir itu, kemudian menariknya keras-keras. Aris seketika menjerit kesakitan, "Aduuhh!!"

"Sudah! Sudah tidak apa-apa, sudah nenek betulkan uratnya!" kata Nek Ranti yang rupanya pintar juga memijat.

Nek Ranti lalu mengambil segelas air putih dan menyuruh Aris meminumnya. Setelah Aris tenang, barulah Nek Ranti bertanya. Siapa namamu? Anak siapa kamu? Di mana rumahmu? Aris menjawab semua pertanyaan Nek Ranti dengan jujur.

Nek Ranti menasehati Aris agar tidakmengulangi perbuatannya. Ia juga berpesan agar meminta izin dulu sebelum masuk ke pekarangannya.

"Nenek pasti akan memberi buah-buahan itu pada kalian. Nenek kan tak mungkin menghabiskannya sendirian." ujar Nek Ranti.

Karena Aris belum bisa berjalan dengan baik, Nek Ranti memanggil tetangganya, meminta tolong untuk mengantarkan Aris pulang. Aris malu sekali. Ternyata Nek Ranti begitu baik, tidak seperti anggapannya selama ini.

Aris minta maaf kepada Nek Ranti dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan buruknya itu sebelum pulang.

Sejak itu, Arisselalu mengingatkan teman-temannya, agar tidak sembarangan masuk ke pekarangan rumah Nek Ranti. Harus minta izin dulu dengan sopan. Aris bahkan menegur teman-temannya yang suka mengejek Nek Ranti. "Nenek Ranti itu baik. Bukan Mak Lampir!" kata Aris.



-END-

gimana cerpennya? silahkan tulis komentar kalian ^^

60 komentar:

  1. nice lah,hahaha tapi wrna tulisannyo kurang cocok :D

    BalasHapus
  2. keren cerpen nya kak beb
    lanjutkan buat cerpen2 menarik lain yaa

    BalasHapus
  3. nice post dhilla :)
    interesting! :D

    BalasHapus
  4. @izam haha makasih zam. sip beko dituka

    BalasHapus
  5. @dila makasih dilaaaa . insyaallah kalau ada waktu :)

    BalasHapus
  6. makanya jangan sembarangan masuk rumah orang, jadi gini deh akhirnya..
    nice cerpen dil ^^

    BalasHapus
  7. lucu ceritanya...unyu kak beb.. :)

    BalasHapus
  8. @ghina haha iya ghin :)) makasih yaa :D

    BalasHapus
  9. Keren ceritanya dil, tapi kurang panjang, hoho :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya sih yan.. tapi aku kekurangan inspirasi . haha :D makasih masukannya :D

      Hapus
  10. Balasan
    1. udaah segitu doang faa.. belum dapat inspirasi buar ngelanjutin wkwk :D

      Hapus
  11. mak lampir nya baik hati, tidak sombong dan rajin menabung.. hahaha..:D

    BalasHapus
  12. mantap dil :D lanjutkan, tapi bayu srankan background ny ganti atau ndak wrna tulisan ganti, soalny kurang pas terlalu tarang :S
    follow jo komen http://conanswt.blogspot.com/2012/11/pesta-budaya-tabuik-pariaman-suatera.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. okeee dila usahain tukar warna tulisannya :D makasih masukannya :D

      Hapus
  13. nice post dil..
    ceritanya memberikan amanat2 yang bgus...
    lanjutkan...
    klu ad cerpen baru share lagi ya...
    :D..

    BalasHapus
  14. baguss ceritanya dil, :)
    buruan nyusul cerita slnjutnya yaaa... di tunggu..

    BalasHapus
  15. jangan pernah menilai seseorang dari tampangnya namun lahat dari hatinya
    pesan moral yang sangat berguna tapi dilupakn begitu saja
    tq k'k beb udah ngingetin

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha nah itu dia inti dari cerpen ini. iyaa samasama ulfa :D makasih yaa

      Hapus
  16. ad bkat bru ni kakbheb.. harus d kembangin tuuu... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe aku masih newbie tiww :D okeee makasih yaaa :)

      Hapus
  17. mat pocong ndak ado? #galau
    butuh mat pocong ini cerita

    BalasHapus
  18. bagus La haha. bikin sendiri nih? berpotensi jadi penulis (y)

    BalasHapus
  19. mampir..
    follow tu komen dih kawan..

    http://ghi-fari.blogspot.com/2012/12/tokoh-doraemon.html

    makasih..

    BalasHapus
  20. nice post kak beb :)
    ceritanya menarik, lanjutin lagi bikin cerpennya kak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih kak :) insyaallah kalau dapet inspirasi :)

      Hapus
  21. Ga nyangka kak beb bikin cerpen :D bagus kak beb :D ada amanatnya (y) Nice ! :)

    BalasHapus
  22. template blog nya keren, simple tapi enak di pandang, dapet ilmu nih..

    wkwkwk

    BalasHapus
  23. kok kayaknya saya pernah baca cerpen ini di suatu majalah ya :v

    BalasHapus